Sabtu, 10 Agustus 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.1_NADI

 

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN

NADI, S.Pd.

CGP ANGKATAN 10 KELAS 153 B

SDN KARANGMALANG 1 KASREMAN KABUPATEN NGAWI

 



 

“Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh”

Semangat pagi bapak ibu guru yang luar biasa.

Perkenalkan saya Nadi,  saya ingin berbagi pengalaman hasil refleksi saya terkait modul 3.1 yang berjudul "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin". Saya menggunakan pendekatan refleksi 4F/4P dalam mengevaluasi pemahaman dan penerapan konsep dari modul ini. Berikut adalah gambaran hasil refleksi saya berdasarkan model 4F/4P."

Pengambilan Keputusan merupakan hal yang sangat baku karena berdamapak kepada semua pihak yang terlibat, maka dari itu sebagai seorang pemimpin   dalam pengambilan Keputusan hendaknya mempertimbangkan dengan matang, bijak dan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian agar dikemudian hari tidak ada dampak yang negative dan tidak ada orang yang dirugikan. 

1. Facts/Peristiwa

Modul 3.1 dimulai dengan Pre Test pada tanggal 29 Juli 2024. Setelah menyelesaikan Pre Test, langkah selanjutnya adalah memasuki alur MERDEKA. Alur pertama dimulai seiring dengan Pre Test. Pada tahap ini, saya merespons pertanyaan terkait pemahaman mengenai kutipan dari Bapak Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi mengenai tanggung jawab kepemimpinan. Kemudian, di alur MERDEKA, langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi konsep. Tahap eksplorasi konsep terdiri dari dua kegiatan. Pertama, saya mengeksplorasi pengetahuan sendiri melalui membaca, memberikan komentar, menjawab pertanyaan, dan menganalisis kasus seputar 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan.

Selanjutnya, di alur ruang kolaborasi pertama yaitu tanggal 1 Agustus 2024, saya memperoleh pemahaman dan pengetahuan lebih lanjut tentang pengambilan keputusan dari fasilitator ibu Winarti, S.Pd.,M.Pd. Fasilitator juga memandu saya dan rekan CGP lainnya dalam menganalisis sebuah kasus dilema etika yang saya alami bersama tiga rekan lainnya (kami dibagi menjadi 3 kelompok) kelompok saya terdiri dari saya sendiri/Nadi, Bu Desi, Pak Sigit dan Bu Vivit. Kami bersama-sama menyusun hasil analisis ini untuk dipresentasikan di pertemuan berikutnya. Kebetulan Kasus yang kami ambil adalah dari SD saya yaitu SDN Karangmalang 1 Kasreman, Ngawi.



Pada ruang kolaborasi kedua yaitu tanggal 6 Agustus 2024, kami bersama-sama mempresentasikan hasil diskusi. Tugas saya dalam kegiatan ini adalah menpresentasikan dan memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok lain.


Langkah berikutnya adalah demonstrasi kontekstual, di mana saya membuat wawancara dengan 2 kepala sekolah mengenai pengambilan keputusan. Kepala sekolah Pertama adalah kepala sekolah saya sendiri ( SDN Karangmalang 1 ) yaitu  Ibu Fiveyun Mariana Karunia Indah, S.Pd. dan Kepala sekolah ke 2 adalah kepala SDN Kasreman 1 BPk. Miran Bukhori, S.Pd. Hasil wawancara ini saya analisis dan buat laporan.




Langkah terakhir adalah tahap Elaborasi Pemahaman tanggal 7 Agustus 2024 oleh narasumber instruktur Bpk. Budi Santosa. Di tahap ini, saya mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang pengambilan keputusan, dipandu oleh instruktur Bpk. Budi Santosa.


Kegiatan selanjutnya adalah menghubungkan antar materi/ Koneksi antar materi. Saya membuat koneksi antar materi yang telah dipelajari mulai dari modul 1 hingga modul 3.1 melalui menjawab 14 pertanyaan. Kegiatan terakhir adalah aksi nyata, di mana saya diberi kempatan untuk mengambil study kasus dan memecahakannya  berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan pada modul 3.1. kemudian, merangkum, menyimpulkan dan merefleksikan tetapi untuk aksi nyata modul 3.1 ini tidak mengimplentasikan ke LMS.

2. Feelings/Perasaan

Saat belajar modul 3.1, saya mengalami  perasaan senang, tertantang, dan penasaran. Saya senang karena mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menganalisis kasus serta membuat keputusan terkait masalah yang dihadapi. Rasa penasaran muncul karena biasanya saya membuat keputusan tanpa mengikuti langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebanyak 9 langkah. Selain itu, saya juga merasa tertantang untuk menerapkan praktik yang baik sehubungan dengan modul 3.1 ini.

3. Findings/Pembelajaran

Saya mendapat manfaat berharga dari modul ini terkait dengan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam proses pengambilan dan pengujian keputusan. Modul ini mengajarkan bahwa pengambilan keputusan haruslah berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan, membawa dampak positif, dan selalu melakukan analisis untuk menentukan apakah suatu masalah tergolong dalam dilema etika atau bujukan moral.

4. Future/Penerapan

Sebagai pemimpin pembelajaran di masa depan, saya berkomitmen untuk melakukan diseminasi mengenai modul ini di sekolah kepada kepala sekolah dan rekan guru. Selain itu, saya akan mengaplikasikan 9 langkah pengambilan keputusan, mempertimbangkan paradigma dan prinsip yang relevan dalam menanggapi situasi tertentu. Semoga dengan pembelajaran ini kita semua dapat memutuskan suatu masalah, kasus dengan sangat bijak dan bermanfaaat untuk semua ‘pihak tanpa ada satupun orang yang merasa dirugikan.

Terima kasih atas perhatian Anda terhadap tulisan ini. Semoga informasi ini memberi manfaat dan membangkitkan semangat bagi seluruh guru yang luar biasa di Indonesia.

Salam Guru Penggerak : Tergeak, Bergerak, Menggerakkan.

Guru Bergerak Indonesia Maju


Jumat, 09 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1_NADI_KELAS 153 B

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN  BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN


 NADI, S.Pd.

CGP ANGKATAN 10 KELAS 153 B

SDN KARANGMALANG 1 KASREMAN KABUPATEN NGAWI


Perkenalkan saya Nadi, S.Pd. dari SDN Karangmalang 1 Kasreman Kabupaten Ngawi. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Namun sebelumnya saya kutipkan kalimat bijak berikut ini untuk menjadikan renungan bagi kita bersama.

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pada hakikatnya pendidikan ini untuk mengembangkan potensi seseorang dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan untuk menjadikannya sebagai manusia yang utuh. Pemberdayaan potensi peserta didik diarahkan untuk membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Sebagai sebuah institusi moral, sekolah merupakan sebuah miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai,  dan moralitas  dalam diri setiap murid.  Perilaku warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid.

Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan bagi murid-muridnya. Hal ini akan tercermin dalam perilaku kesehariannya, sehingga seorang pendidik dapat menjadi role model bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah bahkan di lingkungan tempat tinggal.

Dalam menjalankan perannya, kita sebagai seorang pendidik harus mampu memberikan kontribusi bagi peserta didik, dimana dalam setiap pengambilan keputusan harus berpihak kepada murid yang berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan. Kita menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah, nilai-nilai apa yang akan dijunjung tinggi, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya. Jadi seorang pendidik senantiasa berupaya untuk menanamkan karakter dengan menjunjung nilai-nilai kebajikan universal dan memperhatikan kebutuhan setiap peserta didik.

 Education is the art of making man ethical.

Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis

Memahami kalimat tersebut, maka pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter , norma-norma  sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan saat ini yang kita poles seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai negeri ini di masa depan.

Setelah kita memahami beberapa hal diatas, berikut adalah pendekatan atas tinjauan dari koneksi antar materi pada modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak tentang pengambilan keputusan.

1.Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Semboyan yang dicetuskan oleh KHD yang sampai saat ini masih menjadi landasan berpijak bagi pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah), Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru) harus mampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya.  Semboyan ini memiliki makna mendalam dapat kita jadikan landasan dalam setiap pengambilan keputusan, yaitu keputusan yang selalu berpihak kepada murid agar menjadikan mereka sebagai generasi yang cerdas dan berkarakter sebagaimana tercermin dalam profil pelajar Pancasila. Hal ini dapat kita lakukan dalam proses pembelajaran di sekolah, yang tidak hanya menitik beratkan pada konten kurikulum, namun transfer nilai -nilai kebajikan dapat kita sampaikan secara terus menerus dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.

2.Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Perangai seseorang terkadang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang tersebut. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang diambil ketika seseorang tersebut akan mengambil keputusan. Begitu pula dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness)  dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills),  serta dalam pengambilan keputusan yang bertangung jawab berdasarkan 3 prinsip yaitu Berfikir berbasis hasil akhir (ands_Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan ( Rule_Based Thinking) , Berpikir Rasa peduli (Care-Based Thinking) akan mendukung dalam mewujudkan sikap  Tut wuri handayani . Hal ini dapat dilakukan oeh seorang pendidik dengan memberikan dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah. Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan. Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan — kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan.

3.Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Tidak dapat dielakkan bahwa kita selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan yang membutuhkan suatu keputusan dalam penyelesainnya. Dalam pengambilan keputusan dibutuhkan langkah-langkah yang mengacu pada prinsip tertentu, karenoa dalam pengambilan keputusan berkaitan erat dengan masa depan suatu organisasi, apalagi menyangkut pada keputusan yang sifatnya strategis. Salah satu faktor yang sangat membantu dalam pengambilan keputusan adalah keterampilan coaching. Sebagai pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching.
Selama proses pembelajaran, pendampingan dalam pengujian pengambilan keputusan melalui kegiatan coaching (bimbingan) yang dilakukan oleh  fasilitator saya rasakan sangat efektif dalam membantu pemahaman saya.

Beberapa contoh praktik coaching dapat memberi gambaran yang utuh untuk dapat diterapkan di sekolah. Keputusan yang diambil dengan teknik coaching yang berlandaskan etika, nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada murid dan menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Teknik coaching dilakukan dengan prinsip kesetaraan, sehingga tidak terkesan menggurui tetapi justru akan menimbulkan rasa nyaman  sehingga coach, sehingga mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee. Begitu pula dengan coachee yang dengan rasa nyaman dapat menyampaikan hambatan — hambatan dan dapat menemukan solusi yang sesuai. Hal ini karena coach mampu menjadi pendengar yang baik sehingga mampu membantu menguraikan permasalahan melalui pertanyaan-pertanyaan berbobot.  Dengan coaching, guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai coach yang baik guru memiliki harapan terhadap siswanya sehingga dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di sekolah dengan baik.

4.Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dalam setiap pengambilan keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan  serta regulasi yang ada dengan berpedoman pada 9 langkah pengambilan keputusan. Melalui kedua dasar tersebut kita dapat menganalisis sehingga dapat membedakan antara dilema etika atau bujukan moral.

Kepekaan sosial emosional seseorang akan menumbuhkan empati dan simpati, sehingga dapat menempatkan diri untuk bisa mengenal orang lain . Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, sehingga kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, disaat harus melakukan pengambilan keputusan. Guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran akan bertindak atas dasar keberpihakan pada murid. Dalam setiap keputusannya harus mempertimbangkan banyak hal yang bermuara pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan berlandaskan pada 4 paradigma yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang, 3 prinsip yaitu prinsip berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli. Serta dilakukan dengan 9 langkah yaitu:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa saja yang terlibat
  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
  4. Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Prinsip Pengambilan Keputusan
  7. Investigasi Opsi Trilemma
  8. Buat Keputusan
  9. Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

5.Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah empati dan simpati seorang pendidik. Pendidik yang telah terlatih akan mempunyai rasa empati dan simpati yang baik sehingga diharapkan mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran lebih bijak.

Kebijakan yang muncul pada saat pengambilan keputusan tetap mengacu keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid, sehingga solusi tepat akan didapat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu menganalisis permasalahan dari berbagai sudut pandang dan pendidik yang dengan tepat, sehingga mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Ketika seorang pendidik dihadapkan pada kasus-kasus yang berfokus pada masalah moral dan etika, maka keputusan yang diambil akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung bermuara pada kebenaran menurut versi pribadi. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilemma etika ataukah bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir kebutuhan murid dan menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.

6.Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang kita ambil secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada implementasi pembelajaran dan mempengaruhi situasi di sekolah. Setiap keputusan yang kita ambil harus tepat dan bijak berlandaskan nilai-nilai kebajikan, keteladanan, bijaksana dan tidak melanggar norma. Dengan landasan tersebut kita dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya.

7.Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Pengambilan keputusan yang dilakukan berlandaskan atas tiga prinsip penyelesaian dilema, yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Pemilihan prinsip tersebut tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.  Meskipun setiap keputusan pasti ada resiko, pro dan kontra, namun hal ini menjadikan salah satu tantangan tersendiri. Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus — kasus yang sifatnya dilema etika adalah perasaan tidak enak yang timbul karena tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun dengan mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan dapat meminimalkan perasaan tidak nyaman dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak.

8.Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid kita adalah terciptanya merdeka belajar. Dengan merdeka belajar, murid bebas mencapai kesusksesan, kebahagiaan sesuai minat dan potensinya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Hal ini diharapkan murid-murid akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya. Disinilah dasar pijakan kita bahwa semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru berfungsi untuk memfasilitasi, membantu mengembangkan bakat dan minat yang sudah ada. Kurikulum merdeka sangat berorientasi pada murid, hal ini terlihat dari kurikulum kelas VI yang tidak lagi memecah materi menjadi beberapa kompetensi, namun menjadi satu kesatuan utuh dan mendalam kedalam satu mata pelajaran. Penggunaan model pembelajaran berdiferensiasi akan mampu mengakomodir kebutuhan setiap siswa sesuai dengan bakat dan keahliannya. Guru hanya sebagai fasilitator dan pembelajaran terpusat pada siswa, dengan didukung pada penerapan secara eksplisit maupun implisit KSE yang akan semakin memperkuat  dan mempertajam wujud nyata dalam memfasilitasi dan mengasah keterampilan social emosional murid-murid kita.

9.Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran pasti akan membawa dampak, baik jangka panjang maupun pendek bagi murid. Hal yang sudah kita putuskan dan kita lakukan akan terekam menjadi suatu catatan dan akan menjadikan role model tentang apa dan bagaimana kelak murid-murid berpikir dan bertindak.

Bagaimana mereka mengambil keputusan di masyarakat dikemudian hari. Gambaran ini menjadikan dasar bahwa pengambilan keputusan oleh seorang pendidik harus tepat, benar dan bijak melalui analisis dan pengujian yang mendalam atas benar salahnya. Pengujian dilakukan dengan menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak menyesatkan murid-murid.

10.Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru sebagai pendidik. Terkait dengan tugas dan fungsinya seorang guru dalam membuat keputusan harus berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara, karena setiap keputusan yang diambil akan mewarnai pola pikir dan karakter murid. Agar keputusan yang diambil dapat memberikan kemanfaatan untuk banyak orang, mampu mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) dan dapat dipertanggungjawabkan, maka harus dilakukan berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur yang tertata seperti BAGJA. Hal ini dilakukan semata untuk menghantarkan murid menuju profil pelajar pancasila, yang dalam perjalanannya banyak benturan yang sifatnya dilema etika dan bujukan moral. Untuk itu diperlukan panduan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga langkah yang diambil selalu berpihak kepada murid.

Sekolah sebagai institusi yang berfungsi memberikan pelayanan, membimbing, mendidik dan mengajar para peserta didik agar memiliki sifat/tingkah laku yang lebih baik. Sekolah juga bertugas melakukan proses transfer ilmu dan pembentukan karakter peserta didik. Banyak hal yang harus dilakukan, tentu saja banyak juga pengambilan keputusan yang mewarnai kebijakan-kebijakan sekolah. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan dengan bijak, dengan mengedepankan nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi kesepakatan kelas. Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpim pembelajaran dengan menggunakan alur BAGJA, selalu berorientasi untuk mewujudkan budaya positif sehingga dapat menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman (well being). Guru mempunyai kewajiban untuk mengantarkan murid menjadi insan yang cerdas dan berkarakter, menuju profil pelajar Pancasila. Harapan ini pasti dibutuhkan komitmen dari semua pihak. Dalam mengawal impian ini tentu banyak juga ditemui permasalahan baik yang sifatnya dilema etika maupun bujukan moral. Untuk itu diperlukan panduan 9 langkah dalam pengambilan keputusan dan pengujian agar keputusan yang diambil berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar. Sebagai salah satu bentuk merdeka belajar adalah diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. Dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kebutuhan murid akan terpenuhi sesuai dengan bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya.

11.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan bahwa ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan semata, namun sangat diperlukan adanya paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil tepat sasaran dan bermanfaat untuk orang banyak. Disamping itu secara personal, dalam pengambilan keputusan diperlukan satu sikap keberanian dengan segala konsekwensinya.

12.Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil  keputusan dengan situasi dilema etika, namun yang saya lakukan hanya sebatas pada pemikiran didukung dengan beberapa pertimbangan. Saya sudah merasa aman bila keputusan yang saya ambil sudah sesuai aturan dan tidak berdampak merugikan banyak orang. Dengan belajar modul ini saya menjadi lebih kaya akan pengetahuan bahkan telah mempraktikkan, bagaimana cara pengambilan keputusan yang tepat dengan menggunakan langkah-langkah tertentu yang tidak lepas dari paradigma dan prinsip-prinsip yang ada.

13.Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Konsep yang sudah saya pelajari di modul ini memberikan dampak yang besar bagi pola pikir saya. Sebelumnya saya berpikir bahwa pengambilan keputusan yang telah didasarkan regulasi dan sosial saja sudah cukup, ternyata banyak hal yang menjadi dasar. Dalam konteks ini terdapat 4 paradigma dilema etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) yang semuanya didasari atas 3 prinsip dan 9 langkah pengujian. Saya berencana akan mengimplementasikan landasan tersebut dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam pengambilan kebijakan di sekolah dan komunitas praktisi.  Dengan landasan dalam pengambilan keputusan tersebut, saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil akan tepat dan lebih akurat dengan selalu berpihak pada murid.

14.Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi pada modul 3.1 bagi saya sangat penting dan bermakna, karena dimanapun dan sebagai apa peran kita pasti akan menjumpai permasalahan yang dituntut untuk mengambil keputusan. Dari keputusan tersebut akan dihasilkan kebijakan -kebijakan yang akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, maka seorang guru harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Sebagai landasan dalam pengambilan keputusan tersebut tentunya mengacu pada 9 langkah 4 paradigma dan  3 prinsip. Selain itu keputusan diambil melalui tiga uji yaitu: Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).

Demikian koneksi antar materi yang saya paparkan, saya menyadari masih sangat perlu untuk belajar lebih banyak, untuk itu mohon masukannya agar menjadikan motivasi bagi saya untuk selalu tergerak belajar dan melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk orang lain. Guru tergerak, bergerak dan menggerakan. Guru bergerak Indonesia maju.

Kamis, 25 Juli 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN_MODUL 2.3_NADI

 

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN _ Modul 2.3

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

NADI, S.Pd.

CGP ANGKATAN 10 Kelas 153 b

SD NEGERI KARANGMALANG 1 KASREMAN

KABUPATEN NGAWI

Pengajar Praktik


Suranto Wahyu Nugroho, S.T.,M.T

Fasilitator


Winarti, S.Pd.,M.Pd.


Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabaroakatuh

SALAM GURU PENGGERAK ( Tergerak, Bergerak, Menggerakkan )

 

Salam dan Bahagia Bapak Ibu Guru Hebat dimana pun Anda berada. Kembali lagi dengan saya Nadi, S.Pd. Calon Guru Penggerak Angkatan 10 dari SD Negeri Karangmalang 1 Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Pada kesempatan ini saya akan menulis tentang apa yang sudah saya lakukan pada pendidikan Guru penggerak di materi Modul 2.3 yaitu Coaching Untuk Supervisi Akademik

Jurnal Dwi mingguan ini saya tulis untuk menggambarkan refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.3 dan ini merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Saya akan menuliskan semua pengalaman saya dan semua yang saya rasakan selama mempelajari modul 2.3 ini dalam artikel ini dengan model refleksi 4P/4F yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu:

 

1. PERISTIWA/FACT

 

Pembelajaran Modul 2.3 ini dimulai tanggal 8 Juli 2024 dengan kegiatan pembelajaran 1 yaitu mulai dari diri , dalam fase pertama pembelajaran CGP diminta merefleksikan hal-hal yang terkait supervise akademik dan pengembangan kompetensi diri dengan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan Observasi akademik oleh kepala sekolah. Kegiatan selanjutnya  adalah pembelajaran 2.3.a.4.1 Eksplorasi Konsep  dengan 4 materi yaitu mengenai Konsep Coaching secaraa umum dan konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan, Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching, Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur percakapan Coaching, 

Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching. Dilanjutkan dengan pembelajaran 2.3.a.4.5 Eksplorasi Konsep Forum diskusi yang mana setiap CGP memberikan pernyataan mengenai keterkaitan keterampilan Coaching dengan Supervisi Akademik dan CGP menanggapi jawaban  minimal 3 CGP.

Pada hari Senin, 15 Juli 2024 kami melaksanakan kegiatan  pembelajaran 2.3.a.5 di ruang kolaborasi bersama Fasilitator Ibu Winarti, S.Pd.M.Pd dan rekan Calon Guru Penggerak Angkatan 10. Tugasnya adalah sesi Latihan praktik Coaching ( Menjadi Coach dan Coachee secara bergantian) dengan teman 1 kelompok. Kelompok di bagi menjadi 5 kelompok, kebetulan saya dengan CGP Ibu Harmini menjadi kelompok 1.




Pada hari Selasa, 16 Juli 2024 kami dipertemukan Kembali dalam kegiatan 2.3.a.5.1 ruang kolaborasi 2 dengan kegiatan Praktik Coaching dengan salah satu anggota kelompok yang sudah ditentukan oleh fasilitator dan saya masih tetap dengan CGP Ibu Harmini dan selanjutnya rekaman hasil praktik diunggah dalam LMS https://www.youtube.com/watch?v=cBp4LwhLrus




Tugas kami masih berlanjut di Pembelajaran 4 yaitu kegiatan Demonstrasi kontekstual. Yakni mebuat video terkait Coaching dalam Supervisi  Akademik bersama teman sesama CGP yaitu saya/Nadi, Bu Sri Mei Ekowati dan Bpk Achmad Taufik (CGP kelas 155 b) . Yang mana kami bertindak sebagai Supervisor, Coach, dan Coachee secara bergantian, namun yang diunggah di LMS adalah CGP yang berperan sebagai Supervisor. Dari praktik tersebut kami upload di youtube dan unggah LMS https://youtu.be/qF5Jq3NPD4w

Kemudian beberapa hari berikutnya, yakni Jumat, 19 Juli kami bergabung dalam pembelajaran 5 kegiatan 2.3.a.7.1 ruang elaborasi pemahaman bersama instruktur Bpk. Henri Rianto, M.Pd. dengan didampingi oleh fasilitator, pengajar praktik, dan rekan CGP lainnya.

 Kegiatan yang dilakukan adalah menyimak pemaparan instruktur, tanya jawab, dan memperdalam materi pembelajaran modul 2.3


Adapaun tugas selanjutnya adalah Pembelajaran 6 membuat Koneksi antar materi yang memuat tentang keterkaitan modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik dengan Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi dan 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional.Tugas tersebut saya unggah di blogger saya dan LMS. https://nadishidiq123.blogspot.com/2024/07/koneksi-antar-materi-modul-23-coaching.html

Kegiatan modul 2.3 diakhiri dengan pembelajaran 7 kegiatan Aksi Nyata. Yang mana kegiatan tersebut diupload di Youtube dan diunggah pada LMS.

2. PERASAAN/FEELING

 

Perasaan selama mempelajari modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik adalah lebih paham  dan mampu memiliki paradigma berpikir coaching dalam berkomunikasi dalam rangka mengembangkan kompetensi rekan sejawat, mampu menerapkan praktik komunikasi memberdayakan dengan menggunakan paradigma berpikir dan prinsip coaching dan dapat melakukan percakapan berbasis coaching dalam komunitas sekolahnya untuk mengembangkan kompetensi rekan sejawat. Namun, ada perasaan cemas juga setelah mempelajari modul ini, saya cemas jika saya tidak mampu melaksanakan Coaching dengan baik dan netral. Tetapi semua itu menjadi sebuah tantangan untuk selalu berfikir optimis bahwa jika ada kemauan pasti ada jalan untuk menjadi lebih baik.

 

3. PEMBELAJARAN/FINDING

 

Pembelajaran berharga yang diperoleh dari pembelajaran di modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik yakni saya mendapatkan pelajaran bahwa saya harus mampu menjelaskan konsep coaching secara umum, membedakan coaching dengan pengembangan diri lainnya, yaitu mentoring, konseling, fasilitasi, dan training. menjelaskan konsep coaching dalam dunia pendidikan sebagai pendekatan pengembangan kompetensi diri dan orang lain (rekan sejawat).

Menjelaskan paradigma berpikir coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, Menjelaskan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, Mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik, Membedakan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, Melakukan percakapan coaching dengan alur TIRTA.

Mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching: coaching presence, mendengar aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, Menjelaskan jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi, Memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip dan coaching, Mempraktikan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching.

 

4. PENERAPAN KE DEPAN/FUTURE

 

Hal yang akan saya lakukan selanjutnya yaitu melaksanakan supervisi akademik baik dengan murid maupun teman sejawat mengenai permasalahan Pendidikan yang dialami baik di kelas maupun menyelesaiakn permasalahan lain (mentoring, konseling, Fasilitasi) agar Pendidikan di lingkup sekolah dapat berjalan dengan baik dan lancar.

 

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi wabarokatuh

GURU BERGERAK, INDONESIA MAJU











Sabtu, 20 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

 

KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 2.3 COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

Nadi, S.Pd._CGP Angkatan 10_Kelas 153 B

SD Negeri Karangmalang 1 Kasreman

Kabupaten Ngawi

Pengajar Praktik


Suranto Wahyu Nugroho, S.T.,M.T

failitator


Winarti, S.Pd.,M.Pd.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabaroakatuh

 

SALAM GURU PENGGERAK ( Tergerak, Bergerak, Menggerakkan )

Hai rekan-rekan sekalian, perkenalkan nama saya Nadi Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 10 kelas 153 b pada kesempatan kali ini saya ingin  menyampaikan tentang koneksi antar materi, Kesimpulan dan Refleksi Modul 2.3 Coaching dalam  Supervisi Akademik.

Ø  Supervisi Akademik

Supervisi akademik dilakukan untuk pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu: Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang: 

  1. ·       Interaktif
  2. ·       Inspiratif
  3. ·       Menyenangkan
  4. ·       Menantang
  5. ·       Memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif dan 
  6. ·       Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik. 

Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita memastikan bahwa supervisi akademik yang kita jalankan benar-benar berfokus pada proses pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam standar proses tersebut.

 Ø  Konsep Coaching

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).  Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” 

Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi diri sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama.  Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coachee untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.

Tujuan coaching adalah menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki dan membangun kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach hanya menghantarkan melalui mendengarkan aktif dan melontarkan pertanyaan, coachee lah yang membuat keputusan sendiri

Ø Paradigma Berpikir Coaching

1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan

2. Bersikap terbuka dan ingin tahu

3. Memiliki kesadaran diri yang kuat

4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Ø  Prinsip Coaching

1.      Kemitraan

2.      Proses Kreatif

3.      Memaksimalkan Potensi

 

Ø  Prinsip dan Paradigma Berpikir Coaching dalam Supervisi Akademik

Costa dan Garmston (2016) menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi awal yang kita ambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang.

 

Ø  Kompetensi inti coaching :

1.      Kehadiran Penuh/Presence

2.      Mendengarkan Aktif

3.      Mengajukan Pertanyaan 


Ø  Mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure:

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:

-R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.

 -S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuaiSetelah merangkum apa yang disampaikan coachee bagian terakhir adalah

-A (Ask/Tanya) mengajukan pertanyaan berbobot.

Ø  Coaching dengan Alur TIRTA

1.Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee.

2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

3.  Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

4.  Tanggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

Ø  Umpan Balik berbasis Coaching

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan umpan balik dengan prinsip coaching:

1.Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri coachee

2. Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah

3. Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan

4. Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee

Menurut Costa dan Garmston (2016) dalam Cognitive Coaching: Developing Selfdirected Leaders and Learners, ada beberapa jenis umpan balik balik yang mendukung kemandirian untuk penerima umpan balik.

Ø  Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

Dengan memiliki paradigma berpikir coaching, kita bersama akan meningkatkan peran kita di sekolah sebagai seorang supervisor. Supervisor yang dimaksud dapat diperankan oleh kepala sekolah, guru senior dan rekan sejawat.

Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada anak. Karenanya kegiatan supervisi akademik hanya memiliki sebuah tujuan yakni pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).

Supervisi akademik sebagai proses berkelanjutan yang memberdayakan dan Kualitas guru yang diharapkan untuk berkembang juga termasuk didalamnya peningkatan motivasi atau komitmen diri. Kualitas pembelajaran meningkat seiring meningkatnya motivasi kerja para guru. Peningkatan kompetensi pendidik dalam mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid

Seorang pemimpin pembelajaran dan sekolah perlu menghidupi paradigma berpikir yang memberdayakan bagi setiap warga sekolah dan melihat kekuatan-kekuatan yang ada dalam komunitasnya. Melalui supervisi akademik potensi setiap guru dapat dioptimalisasi sesuai dengan kebutuhan yang nantinya dapat membantu para guru dalam proses peningkatan kompetensi dengan menerapkan kegiatan pembelajaran baru yang dimodifikasi dari sebelumnya. Dan salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui percakapan coaching dalam keseluruhan rangkaian supervisi akademik.

Ø  Beberapa prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi:

1. Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru

2. Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu

3. Terencana

4. Reflektif

5.Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati

6. Berkesinambungan

7. Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik

 

Supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut.

Dalam buku Supervision for a Better School, Lovell (1980) mendefinisikan supervisi klinis sebagai rangkaian kegiatan berpikir dan kegiatan praktik yang dirancang oleh guru dan supervisor dalam rangka meningkatkan performa pembelajaran guru di kelas dengan mengambil data dari peristiwa yang terjadi, menganalisis data yang didapat, merancang strategi untuk meningkatkan hasil belajar murid dengan terlebih dulu meningkatkan performa guru di kelas.

Ø  Sebuah kegiatan supervisi klinis bercirikan:

1. Interaksi yang bersifat kemitraan

2. Sasaran supervisi berpusat pada strategi pembelajaran atau aspek pengajaran yang hendak dikembangkan oleh guru dan disepakati bersama antara guru dan supervisor

3. Siklus supervisi klinis: pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi

4. Instrumen observasi disesuaikan dengan kebutuhan

5. Objektivitas dalam data observasi, analisis dan umpan balik

6.Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama melalui percakapan guru dan supervisor

7. Menghasilkan rencana perbaikan pengembangan diri

8. Merupakan kegiatan yang berkelanjutan

Siklus dalam supervisi klinis pada umumnya meliputi 3 tahap yakni Pra-observasi, Observasi dan Pasca-observasi. Proses tindak lanjut yang meliputi refleksi, perencanaan pengembangan diri dan pengembangan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Seorang supervisor dengan paradigma berpikir seorang Coach akan senantiasa menjadi mitra pengembangan diri para guru dan rekan sejawatnya demi mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Percakapan-percakapan antara supervisor dan para guru senantiasa memberdayakan sehingga setiap guru dapat menemukan potensi dan meningkatkan kompetensi yang ada pada setiap individu. Supervisi akademik menjadi bagian dalam perjalanan seorang pendidik menuju tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid dan membawa setiap murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Sumber : Modul CGP

Ø  Refleksi Pembelajaran Modul 2.3

Pada Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik selaras dengan salah satu Peran Guru Penggerak. Menjadi coach bagi guru lain. Setelah mempelajari coaching akan melakukan atau mengimplementasikan di sekolah. Dalam menjalankan peran menjadi coach bagi guru lain, terutama yang terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran bagi murid di sekolah, Guru harus berdaya dalam menemani dan menuntun rekan sejawatnya itu untuk menelaah proses belajar mereka sendiri. Belajar keterampilan coaching, memberdayakan diri melalui refleksi atas hasil pengalaman praktik-praktik profesional sendiri,  harus dapat mengambil pembelajaran, memunculkan pertanyaan-pertanyaan mendalam untuk mengakses keterampilan metakognitif ketika melihat dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri terkait belajar, pencapaian tujuan, dan pemecahan masalah. Sebagai coach harus lincah berpindah-pindah dari pemikiran pengembangan rekan sejawat pada level individu dan level anggota komunitas pendidik di sekolah.

Setelah saya belajar materi coaching ini,saya sudah mencoba melakukan praktek sebagai coach, saya merasa tertantang bagaimana bisa menggali pengalaman dalam mengatasi masalah dan membuat pertanyaan berbobot yang dapat membangkitkan pengetahuan coachee saya tanpa berusaha memberikan arahan. Saya juga belajar menahan diri untuk tidak menjudgment, mengasumsikan serta mengasosiasikan ketika coachee berpendapat. Untuk permasalahan ini saya bertanya pada diri saya sendiri,apa yang bisa saya lakukan agar emosi saya tetap terkontrol. Menurut saya disini lah keterampilan sosial emosional yang saya dapat di modul 2.2 diuji pemahamannya. Saya harus mampu mengolah emosi , keterampilan kesadaran diri, pengelolaan diri dan keterampilan berelasi perlu diterapkan ketika saya menjadi coach di kelas .

Selama pembelajaran, saya sudah merasa mampu dalam menahan diri saya untuk tidak menjudgment ketika siswa saya berpendapat. Saya berikan mereka kebebasan berpendapat ketika saya mengajukan pertanyaan, tentu dengan pengaturan kesempatan berpendapat agar tidak mengganggu ketertiban di kelas. Saya merasa berhasil dalam menerapkan keterampilan sosial emosional . Saya juga selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi rekan sejawat saya ketika mereka berkeluh kesah yang sedikit banyak dapat melepaskan beban mereka. Dari obrolan santai ini terlahir rencana bagaimana rekan berusaha mengatasi masalah yang dihadapinya, dan tentu saja saya tetap menerapkan 3 keterampilan coaching yang sudah saya pelajari.

 Ø  Keterkaitan Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial dan Emosional ( Modul 2.3, 2.1 dan 2.2 )

  • ·Keterampilan coaching dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi. Misalnya, coach dapat membantu guru untuk:

Memahami kebutuhan belajar siswa: Coach dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk membantu guru untuk memahami apa yang siswa ketahui, apa yang mereka butuhkan untuk belajar, dan bagaimana mereka belajar.

Mengembangkan strategi pembelajaran yang berdiferensiasi: Coach dapat membantu guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa.

Memantau dan mengevaluasi pembelajaran siswa: Coach dapat membantu guru untuk memantau dan mengevaluasi pembelajaran siswa untuk memastikan bahwa mereka mencapai tujuan pembelajaran.

Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.

Kegiatan untuk melatih menghadirkan presence yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kegiatan STOP dan Mindful Listening yang telah kita pelajari pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional yang lalu Penting diingat tidak ada satu cara yang terbaik untuk semuanya karena setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk dapat menghadirkan presence. Untuk itu temukan cara yang paling efektif untuk Bapak/Ibu agar bisa terus melatih diri dan menerapkannya sebelum dan selama melakukan percakapan coaching.

  •    Keterampilan coaching juga dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran sosial dan emosional. Misalnya, coach dapat membantu guru untuk:

Membangun hubungan yang positif dengan siswa: Coach dapat membantu guru untuk mengembangkan hubungan yang positif dengan siswa sehingga siswa merasa nyaman untuk belajar dan berkembang.

Membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional: 

Coach dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, seperti keterampilan komunikasi, kerja sama, dan resolusi konflik. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pembelajaran sosial dan emosional:

Coach dapat membantu guru untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pembelajaran sosial dan emosional, seperti lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung siswa untuk mengambil risiko.

Keterampilan coaching adalah keterampilan penting yang dapat mendukung pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Keterampilan coaching dapat membantu pemimpin pembelajaran untuk:

Membangun tim yang kuat: Coach dapat membantu pemimpin pembelajaran untuk membangun tim yang kuat dengan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan anggota tim.

Mengembangkan komunitas belajar: Coach dapat membantu pemimpin pembelajaran untuk mengembangkan komunitas belajar yang mendukung pembelajaran dan pengembangan profesional guru.

Memimpin perubahan: Coach dapat membantu pemimpin pembelajaran untuk memimpin perubahan dengan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan anggota tim untuk mendukung perubahan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: keterkaitan peran coach, pembelajaran berdiferensiasi, dan pembelajaran sosial dan emosional menunjukkan bahwa keterampilan coaching adalah keterampilan penting yang dapat mendukung pembelajaran dan pengembangan profesional guru.  Saya yakin bahwa dengan mengembangkan keterampilan coaching, saya dapat menjadi guru yang lebih efektif dalam mendukung pembelajaran siswa dan pengembangan profesional guru

 

 

Semoga kita bisa menerapkan di sekolah dan menjadi pembelajar sepanjang hayat

GURU BERGERAK, INDONESIA MAJU

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.3_Nadi

  JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID Nadi, S.Pd. CGP Angkatan 10 Kabupaten...